Formasi Ruben Amorim Dikritik Oleh Fans Man United
Formasi Ruben Amorim Dikritik Oleh Fans Man United. Ruben Amorim, pelatih baru Manchester United, sedang berada di bawah sorotan tajam setelah serangkaian hasil buruk di awal musim 2025/26, khususnya setelah kekalahan mengejutkan dari Grimsby Town di Carabao Cup pada 28 Agustus 2025. Keputusan taktisnya, terutama penggunaan formasi yang dianggap tidak cocok dengan skuad United, telah memicu kritik keras dari para penggemar. Meski Amorim datang dengan reputasi cemerlang dari Sporting CP, pendekatan barunya di Old Trafford belum sepenuhnya diterima. Artikel ini akan mengulas siapa Ruben Amorim, formasi yang ia gunakan, dan mengapa pendekatannya menuai hujatan, dengan bahasa yang santai namun tetap formal. BERITA BOLA
Siapa Itu Ruben Amorim
Ruben Amorim adalah pelatih asal Portugal berusia 40 tahun yang diangkat sebagai manajer Manchester United pada November 2024, menggantikan Erik ten Hag. Sebelumnya, ia meraih kesuksesan besar bersama Sporting CP, memenangkan dua gelar Liga Portugal (2020/21 dan 2023/24) serta dua Piala Liga Portugal. Dikenal sebagai pelatih muda dengan pendekatan taktis yang inovatif, Amorim membawa gaya sepak bola yang menekankan pertahanan solid dan transisi cepat. Reputasinya sebagai pelatih yang mampu memaksimalkan skuad muda membuatnya menjadi pilihan menarik bagi United, yang sedang dalam fase rebuild di bawah kepemilikan INEOS. Amorim juga dikenal karena kemampuannya membangun hubungan baik dengan pemain, meski pendekatannya yang tegas dalam penerapan taktik sering kali menuntut adaptasi besar dari skuadnya.
Formasi Apa Yang Dimainkan Ruben Amorim
Amorim konsisten menggunakan formasi 3-4-2-1 sejak tiba di Manchester United, sebuah sistem yang menjadi ciri khasnya selama melatih Sporting CP. Formasi ini mengandalkan tiga bek tengah, empat gelandang dengan dua wing-back yang aktif, serta dua gelandang serang di belakang satu striker. Di United, ia menempatkan pemain seperti Lisandro Martinez, Matthijs de Ligt, dan Harry Maguire sebagai trio bek, dengan Diogo Dalot dan Luke Shaw sebagai wing-back. Bruno Fernandes dan rekrutan baru seperti Matheus Cunha berperan sebagai gelandang serang, mendukung striker seperti Benjamin Sesko atau Marcus Rashford. Formasi ini dirancang untuk memberikan keseimbangan antara pertahanan yang kokoh dan serangan cepat melalui flank, dengan fokus pada penguasaan bola di lini tengah dan pressing tinggi. Namun, penerapan formasi ini di United terlihat kaku, terutama karena skuad masih beradaptasi dengan perubahan drastis dari gaya 4-2-3-1 ala Ten Hag.
Kenapa Formasi Ini Menuai Banyak Hujatan Untuk Ruben Amorim
Kritik terhadap formasi Amorim muncul karena beberapa alasan. Pertama, hasil buruk United di awal musim, termasuk kekalahan 11-12 melalui adu penalti dari Grimsby Town di Carabao Cup dan hasil imbang melawan tim papan tengah di Premier League, membuat fans mempertanyakan efektivitas 3-4-2-1. Banyak yang merasa formasi ini tidak memaksimalkan kekuatan pemain kunci seperti Kobbie Mainoo, yang kesulitan menemukan peran di lini tengah karena persaingan dengan Fernandes. Kedua, wing-back seperti Dalot dan Shaw sering terlihat kelelahan karena tuntutan fisik yang tinggi untuk menyerang dan bertahan, sementara lini depan kerap tampak terisolasi. Ketiga, transisi dari gaya Ten Hag yang lebih fleksibel ke sistem Amorim yang kaku membuat United kehilangan ritme, dengan hanya 4 gol dalam 4 laga kompetitif awal musim 2025/26. Fans juga menyoroti keputusan taktis seperti menempatkan Sesko sebagai penendang penalti ke-10 melawan Grimsby, yang dianggap mencerminkan kurangnya kepercayaan pada pemain baru dalam situasi krusial. Di media sosial, sebagian penggemar menyebut Amorim “terlalu keras kepala” dengan formasinya, sementara yang lain berpendapat bahwa skuad United tidak memiliki kedalaman yang cukup untuk menjalankan sistem ini dengan baik, terutama di lini tengah dan sayap.
Kesimpulan: Formasi Ruben Amorim Dikritik Oleh Fans Man United
Ruben Amorim, dengan formasi andalannya 3-4-2-1, menghadapi tantangan besar di Manchester United, di mana kritik dari fans terus mengalir akibat performa tim yang inkonsisten. Meski memiliki rekam jejak gemilang di Sporting CP, pendekatan taktisnya di Old Trafford belum sepenuhnya selaras dengan skuad yang ada, memicu hujatan atas kurangnya fleksibilitas dan hasil buruk di awal musim. Kekalahan dari Grimsby Town dan kesulitan pemain kunci seperti Mainoo dan Sesko menunjukkan bahwa adaptasi ke sistem Amorim membutuhkan waktu dan penyesuaian. Namun, dengan bakatnya sebagai pelatih muda dan potensi skuad United, masih ada harapan bahwa Amorim bisa membalikkan keadaan. Bagi penggemar, kesabaran mungkin diperlukan, tetapi tekanan untuk meraih hasil positif akan terus membayangi. Apakah formasi ini akan menjadi kunci kebangkitan United atau justru batu sandungan, hanya waktu yang akan menjawab.
Post Comment