Prestianni Membantah Mengenai Ujaran Rasis ke Vinicius Jr

Prestianni Membantah Mengenai Ujaran Rasis ke Vinicius Jr

Prestianni Membantah Mengenai Ujaran Rasis ke Vinicius Jr. Gianluca Prestianni, pemain muda Argentina milik Benfica, secara tegas membantah tuduhan bahwa ia melontarkan ujaran rasis berupa kata “mono” terhadap Vinícius Júnior selama laga playoff knockout Liga Champions melawan Real Madrid pada 17 Februari 2026 di Estádio da Luz. Insiden yang memicu penghentian pertandingan hampir 10 menit itu terjadi setelah gol Vinícius di menit ke-50, di mana Prestianni mendekat sambil menutupi mulut dengan jersey sebelum berbicara, yang langsung ditafsirkan sebagai upaya menyembunyikan hinaan rasis. Prestianni langsung merespons melalui pernyataan resmi di media sosial pasca-laga, menyatakan bahwa ia tidak pernah mengucapkan kata tersebut dan bahwa Vinícius salah menginterpretasikan gerak bibirnya, sekaligus menyayangkan ancaman yang ia terima akibat tuduhan itu. Kontroversi ini terus bergulir menjelang leg kedua, dengan kedua pihak saling bertahan posisi sementara badan pengatur sepak bola Eropa mulai menyelidiki bukti visual dan kesaksian. BERITA TERKINI

Pernyataan Pembelaan Prestianni dan Konteks Insiden: Prestianni Membantah Mengenai Ujaran Rasis ke Vinicius Jr

Dalam unggahan panjangnya, Prestianni menjelaskan bahwa ia hanya mendekati Vinícius untuk memprotes selebrasi tarian yang dianggap provokatif di depan suporter tuan rumah, dan gerakan menutup mulut hanyalah refleks karena emosi tinggi serta kebisingan stadion yang membuatnya berbicara lebih dekat. Ia menegaskan bahwa kata yang keluar dari mulutnya bukan hinaan rasial melainkan ekspresi frustrasi dalam bahasa Spanyol sehari-hari yang salah dipahami, dan ia menyesal jika itu menimbulkan kesalahpahaman. Prestianni juga menyebut bahwa ia menghormati Vinícius sebagai pemain hebat dan tidak punya niat diskriminatif, sambil menyoroti bahwa tuduhan ini telah membuatnya mendapat ribuan pesan ancaman, termasuk yang mengarah pada kekerasan, sehingga ia terpaksa menutup kolom komentar. Pernyataan ini muncul sehari setelah insiden, diikuti dukungan dari rekan setim dan pelatih Benfica yang menegaskan bahwa klub tidak mentolerir rasisme, meski mereka tetap membela pemain muda itu sebagai korban salah tafsir di tengah tekanan pertandingan besar.

Reaksi dari Vinícius dan Kubu Real Madrid: Prestianni Membantah Mengenai Ujaran Rasis ke Vinicius Jr

Vinícius Júnior tidak tinggal diam atas bantahan Prestianni, dengan memposting ulang pesannya bahwa “rasis adalah pengecut di atas segalanya” dan menambahkan bahwa menutup mulut saat berbicara sudah cukup sebagai bukti kesadaran akan kesalahan. Ia menegaskan bahwa kata “mono” terdengar jelas meski mulut tertutup, dan pengalaman berulang menghadapi hinaan serupa membuatnya yakin dengan apa yang ia dengar. Rekan setim seperti Kylian Mbappé dan Trent Alexander-Arnold mendukung Vinícius secara terbuka, menyebut insiden itu sebagai contoh buruk yang harus disikapi tegas, sementara Federico Valverde menyoroti bahwa gerakan menutup mulut justru memperkuat dugaan. Kubu Real Madrid juga menyatakan akan memberikan bukti tambahan berupa rekaman audio yang lebih jelas kepada pihak berwenang, menekankan bahwa pemain mereka tidak akan mundur dari memperjuangkan keadilan. Reaksi ini memperlebar jurang antara kedua kubu, di mana satu sisi melihat Prestianni sebagai pelaku yang berusaha mengelak, sementara sisi lain menilai Vinícius terlalu cepat menuduh tanpa bukti tak terbantahkan.

Proses Investigasi dan Dampak terhadap Kedua Tim

Badan pengatur sepak bola Eropa kini tengah mengumpulkan bukti dari berbagai sudut kamera, kesaksian pemain yang berada di dekat insiden, serta laporan resmi dari wasit François Letexier yang mengaktifkan protokol anti-rasisme saat itu. Jika terbukti, Prestianni berpotensi menghadapi sanksi berat seperti larangan bermain beberapa pertandingan dan denda besar, sementara jika bantahannya diterima, fokus bisa beralih ke selebrasi Vinícius sebagai pemicu ketegangan. Investigasi ini juga memengaruhi persiapan leg kedua, di mana suasana antar tim semakin tegang dan kemungkinan pengawasan ekstra dari suporter serta media. Dampaknya meluas ke diskusi lebih luas tentang bagaimana menangani tuduhan rasisme di lapangan, terutama ketika bukti visual terbatas dan interpretasi menjadi kunci utama. Kedua klub diharapkan menjaga sikap profesional menjelang laga berikutnya, meski kontroversi ini kemungkinan besar akan terus membayangi hingga keputusan akhir keluar.

Kesimpulan

Bantahan Gianluca Prestianni atas tuduhan ujaran rasis terhadap Vinícius Júnior menambah lapisan baru pada kontroversi yang sudah panas sejak laga Benfica melawan Real Madrid. Meski Prestianni bersikeras bahwa tidak ada niat diskriminatif dan insiden hanyalah salah paham, Vinícius serta pendukungnya tetap teguh pada versi mereka, membuat kasus ini bergantung sepenuhnya pada hasil investigasi mendatang. Di tengah ancaman yang diterima kedua belah pihak dan tekanan publik yang tinggi, kejadian ini menjadi pengingat bahwa rasisme di sepak bola masih menjadi isu sensitif yang memerlukan penanganan cepat dan adil. Leg kedua akan berlangsung di bawah bayang-bayang kontroversi ini, dan apa pun hasilnya, semoga menjadi pelajaran bagi semua pihak agar sepak bola tetap menjadi ajang persaingan sehat tanpa ruang bagi kebencian.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment